
KATHMANDU — Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut menyapu permukiman, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas penting di wilayah pegunungan Himalaya.
Hingga Kamis (27/8/2026), otoritas Nepal melaporkan sedikitnya 157 jenazah telah ditemukan, sementara ratusan orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka korban masih berpotensi bertambah karena proses pencarian dan penyelamatan terus berlangsung.
Bencana terutama berdampak pada kawasan Rasuwa, Nepal, yang berada di sekitar perbatasan dengan Tibet, China. Arus banjir membawa lumpur, batu, dan material lainnya dengan kekuatan besar sehingga menghancurkan berbagai bangunan dan infrastruktur yang berada di sepanjang aliran sungai.
Ratusan Orang Masih Hilang
Besarnya dampak bencana membuat proses pencarian korban menghadapi kendala. Sejumlah akses jalan dan jembatan dilaporkan rusak atau tersapu banjir sehingga menyulitkan tim penyelamat mencapai lokasi terdampak.
Laporan terbaru juga menyebut ratusan orang masih belum ditemukan. Di antara mereka terdapat warga asing dan wisatawan yang sedang melakukan perjalanan menuju sejumlah lokasi wisata serta kawasan ziarah di Himalaya.
Menurut laporan yang dikutip media internasional, sekitar 403 orang sebelumnya tercatat hilang, termasuk 341 warga negara asing. Wisatawan dari sejumlah negara seperti India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan.
Kondisi tersebut membuat operasi penyelamatan menjadi prioritas utama pemerintah Nepal.
Permukiman dan Infrastruktur Hancur
Banjir bandang menerjang kawasan sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi. Sejumlah rumah, kendaraan, jalan, jembatan, dan fasilitas proyek dilaporkan tersapu derasnya aliran air.
Kesaksian dari lokasi menggambarkan kerusakan yang cukup luas. Sejumlah permukiman di dekat sungai dilaporkan hancur setelah diterjang material banjir.
Kerusakan infrastruktur juga menjadi tantangan besar bagi proses evakuasi. Helikopter penyelamat dilaporkan menghadapi kesulitan untuk mendarat di sejumlah wilayah terdampak karena kondisi cuaca dan medan pegunungan.
Diduga Berkaitan dengan Longsoran dan Aktivitas Gletser
Penyebab pasti bencana masih menjadi perhatian para ahli dan otoritas setempat. Sejumlah laporan menyebut banjir kemungkinan dipicu oleh runtuhan material berupa es, batu, dan lumpur di kawasan pegunungan yang kemudian menyebabkan peningkatan aliran air secara tiba-tiba.
Associated Press melaporkan bencana tersebut kemungkinan berkaitan dengan longsoran atau runtuhan gletser di kawasan Himalaya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan air dalam jumlah besar mengalir secara mendadak ke lembah sungai.
Reuters juga melaporkan bahwa runtuhan lumpur dan batu dalam jumlah besar masuk ke aliran sungai di kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Namun, penyebab pasti runtuhan tersebut masih terus didalami.
Kawasan Himalaya sendiri menghadapi risiko bencana hidrometeorologi dan geologi yang tinggi, terutama selama musim hujan. Perubahan kondisi gletser juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kejadian banjir mendadak di wilayah pegunungan.
Tim Penyelamat Terus Bergerak
Pemerintah Nepal mengerahkan aparat dan tim penyelamat untuk mencari korban serta mengevakuasi warga yang masih berada di wilayah terdampak.
Upaya penyelamatan dilakukan di tengah kondisi medan yang sulit. Rusaknya jalan dan jembatan membuat sejumlah lokasi hanya dapat dijangkau melalui jalur udara atau setelah akses darat berhasil dibuka kembali.
Sejumlah korban selamat telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan medis. Tim penyelamat juga terus melakukan pencarian terhadap warga yang dilaporkan hilang.
Pemerintah Nepal Hadapi Situasi Darurat
Bencana ini menjadi salah satu peristiwa banjir paling mematikan yang melanda Nepal dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Nepal menghadapi tantangan besar untuk mempercepat pencarian korban, membuka akses menuju wilayah terisolasi, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat terpenuhi.
Selain korban jiwa, kerusakan terhadap infrastruktur berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan jalur transportasi yang menghubungkan Nepal dengan kawasan Tibet.
Dengan jumlah korban yang masih terus diperbarui, perhatian kini tertuju pada operasi pencarian dan penyelamatan. Pemerintah Nepal dan tim tanggap darurat masih bekerja untuk memastikan jumlah korban serta warga yang hilang dapat diketahui secara akurat.
Bencana tersebut sekaligus kembali mengingatkan tingginya ancaman banjir bandang, longsor, dan bencana terkait perubahan kondisi gletser di kawasan Himalaya.
Situasi masih berkembang dan jumlah korban dapat berubah seiring proses pencarian dan identifikasi terus dilakukan.

