BANJARNEGARA – Menapaki usia ke-18, DPC Gerindra Banjarnegara tak ingin sekadar terjebak dalam seremoni. Momentum ulang tahun partai kali ini dijadikan pijakan strategis untuk memperkuat mesin politik hingga ke tingkat desa. Anggota DPRD Banjarnegara dari Fraksi Gerindra, Martoyo, menekankan bahwa kejayaan partai harus berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat.
Menurut Martoyo, istilah ‘Nggremboko’ (berkembang pesat dan rimbun) bukan sekadar kiasan, melainkan target nyata agar Gerindra semakin mengakar di hati masyarakat Banjarnegara.
Bukan Sekadar Wacana, Tapi Aksi Nyata
Dengan mengusung semangat “Kompak, Bergerak, dan Berdampak”, Martoyo mengingatkan seluruh elemen partai—mulai dari jajaran pengurus KSB, PAC, hingga organisasi sayap—untuk berhenti sebatas retorika.
“Kekompakan itu dibuktikan dengan kiprah, bukan hanya ucapan. Ojo omong-omong tok. Kader harus merawat konstituen dengan tulus agar partai ini semakin besar. Target kita jelas: setiap Dapil harus memiliki keterwakilan yang kuat dan tangguh,” tegas Martoyo saat acara tasyakuran di kantor DPC, Minggu (1/3/2026).
Sebagai perpanjangan tangan partai di legislatif, Martoyo menaruh perhatian serius pada pengawalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai program ini adalah kunci menuju Generasi Emas 2045, Yaitu dengan meluruskan pemahaman warga yang masih awam terkait mekanisme MBG serta memastikan anak-anak di Banjarnegara mendapatkan asupan nutrisi terbaik demi kecerdasan masa depan.
Selain itu juga mengakui adanya tantangan di lapangan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan nasional.
Visi besar lainnya yang diusung adalah revitalisasi ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Martoyo ingin memutus rantai urbanisasi dengan menciptakan peluang ekonomi di tingkat desa.
Melalui koperasi ini, distribusi kebutuhan petani seperti pupuk dan gas, hingga pengelolaan hasil bumi seperti kentang dari dataran tinggi Banjarnegara, diharapkan dapat terintegrasi dengan baik. “Kita ingin warga desa sejahtera di tanah kelahirannya sendiri karena sumber ekonominya sudah tersedia dan terkelola di sana,” tambah sosok yang dikenal dekat dengan kaum tani ini.
Menyeimbangkan Pembangunan dan Lahan Produktif
Terkait isu pembangunan fasilitas pelayanan pemerintah di atas lahan sawah produktif, Martoyo menekankan pentingnya sinkronisasi antara regulasi pusat dan tata ruang daerah. Ia berpendapat bahwa selama tujuannya untuk kepentingan publik yang lebih besar dan sesuai instruksi presiden, maka asas manfaat harus menjadi pertimbangan utama.
“Pemerintah pasti bijak dalam menentukan skala prioritas. Yang terpenting adalah bagaimana setiap kebijakan memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.(har13)





