Pekalongan, Jawa Tengah – (23 Oktober 2025)
Tidak ada yang lebih membanggakan daripada melihat perjuangan luar biasa seseorang menembus keterbatasan. Itulah yang tampak dalam momen wisuda Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), Selasa (21/10/2025).
Sorak tepuk tangan hadirin menggema saat Ika Rizki Damayanti, mahasiswi penyandang disabilitas tuli, naik ke atas mimbar untuk menyampaikan pidato kelulusannya. Dengan didampingi seorang juru bahasa isyarat, Ika tampil percaya diri membagikan kisah perjuangannya hingga akhirnya resmi menjadi wisudawati tuli pertama di UMPP.
“Perkenalkan, saya Ika. Saya tuli sejak usia satu tahun. Alhamdulillah, hari ini saya bisa lulus D3 Manajemen Informatika UMPP,” ucapnya, disambut riuh tepuk tangan seluruh tamu wisuda.
Dari Keterbatasan Menuju Prestasi
Ika menceritakan bahwa dirinya lahir normal, namun di usia satu tahun mengalami demam tinggi yang menyebabkan kehilangan pendengaran secara permanen. Masa kecil dan sekolah dasar hingga menengah pertama ia jalani di sekolah umum tanpa dukungan juru bahasa isyarat.
Ia harus berjuang keras memahami pelajaran melalui gerak bibir, tulisan, dan gestur tubuh. Tidak jarang Ika dipandang sebelah mata dan dianggap tidak mampu seperti anak lain pada umumnya. Namun semangat belajarnya tidak pernah padam.
Baru ketika melanjutkan ke SMA Luar Biasa (SLB), Ika mulai mengenal bahasa isyarat dan bertemu dengan teman-teman tuli lainnya. Di sanalah ia menemukan kembali kepercayaan diri dan semangat untuk berjuang lebih jauh.
“Saya tidak merasa sendiri lagi. Kami sama-sama berjuang, sama pengalaman, sama harapan. Kami ingin masyarakat lebih inklusif untuk kami,” ujarnya haru.
Membangun Komunitas dan Menginspirasi
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2020 Ika bersama teman-temannya membentuk komunitas Tuli Muda Pekalongan Raya, sebuah wadah anak muda tuli untuk berbagi, belajar, dan mengajar bahasa isyarat kepada masyarakat umum.
“Lima tahun ini kami aktif membuka kelas bahasa isyarat bagi masyarakat umum,” jelasnya.
Selain aktif di komunitas, Ika juga telah tiga tahun menjadi juru bahasa isyarat di program berita Batik TV, memperjuangkan akses informasi bagi penyandang tuli di wilayah Pekalongan.
Kampus Inklusif yang Membuka Akses
Ika mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh civitas akademika UMPP yang telah membuka jalan bagi mahasiswa difabel untuk mendapatkan pendidikan yang setara.
“Sebelum saya lulus, saya melihat langsung UMPP berusaha menjadi kampus yang inklusif dan ramah difabel. Terima kasih untuk semua dukungannya,” tutur Ika dengan senyum penuh rasa syukur.
Ia berharap UMPP terus berkomitmen mewujudkan kampus yang benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas, agar semakin banyak teman-teman difabel yang bisa menggapai mimpi mereka.
“Saya cinta UMPP,” pungkasnya penuh semangat.
Kisah Ika Rizki Damayanti menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan tekad, doa, dan dukungan lingkungan yang inklusif, setiap insan mampu mencapai puncak cita-citanya.
Penulis: Ramsus





