Martoyo, Anggota DPRD Banjarnegara; Sadran Gede Gumelem Bukan Sekadar Ritual, Tapi Motor Ekonomi dan Persatuan

by
Anggota DPRD Banjarnegara, Martoyo menegaskan komitmen legislatif dalam mendukung penuh kelestarian tradisi ini, baik dari perspektif spiritual maupun penguatan ekonomi kerakyatan..(foto/ahr)

Jongjava.co,Banjarnegara – Tradisi Sadran Gede di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, kembali menjadi sorotan sebagai aset budaya dan religi yang tak ternilai bagi Kabupaten Banjarnegara.

Anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara, Martoyo, menegaskan komitmen legislatif dalam mendukung penuh kelestarian tradisi ini, baik dari perspektif spiritual maupun penguatan ekonomi kerakyatan.

Dalam wawancara eksklusif, Martoyo menyampaikan bahwa Sadran Gede merupakan warisan luhur yang memadukan nilai ketakwaan dengan kearifan lokal. Menurutnya, ritual ini adalah ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT yang secara langsung berdampak pada peningkatan kualitas ibadah masyarakat.

“Kami sangat mendukung (support). Ini adalah warisan nenek moyang kita. Dari sisi religi, kegiatan ini meningkatkan iman dan takwa masyarakat, khususnya di Gumelem dan sekitarnya, sehingga mereka bisa beribadah secara istiqomah,” ujar Martoyo.

Pesan untuk Generasi Muda: Gotong Royong di Era DigitalMenyikapi arus modernisasi, Martoyo mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton dalam setiap perhelatan Sadran Gede.

Ia menekankan bahwa inti dari tradisi ini adalah semangat gotong royong yang terlihat dari simbol-simbol seperti tumpeng dan tenong.”Orang muda harus tahu dan ikut terlibat. Walaupun sekarang era digital, nilai gotong royong harus tetap di-uri-uri (dilestarikan).

Teknologi harus dikolaborasikan dengan tradisi, namun intinya tetap pada kebersamaan,” tegasnya.Simbol Inklusivitas dan PersatuanTerkait keberagaman masyarakat, Martoyo melihat Sadran Gede sebagai alat pemersatu yang ampuh.

Meskipun masyarakat memiliki perbedaan keyakinan, tradisi ini mampu menyatukan mereka dalam satu identitas budaya yang kuat.”Masyarakat kita heterogen.

Di balik perbedaan itu, kita punya kesatuan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sadran Gede adalah simbol identitas lokal yang memperkuat persatuan warga,” imbuhnya.

Menjawab pertanyaan kritis mengenai penggunaan dana publik (APBD) melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Martoyo menyatakan bahwa DPRD selalu mengedepankan prinsip akuntabilitas.

Martoyo berharap Sadran Gede Gumelem bisa naik kelas, tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah berbasis kearifan lokal dalam lima tahun ke depan.(foto/doc)

Ia membantah anggapan bahwa ritual budaya hanya menghabiskan anggaran secara sia-sia.”Jika ke depan prospeknya bagus dan memberikan dampak riil bagi ekonomi serta sosial masyarakat, apa salahnya anggaran di-backup lagi (ditambah)? Pemerintah daerah pasti men-support karena di situ ada geliat ekonomi masyarakat yang nyata,” jelas Martoyo.

DPRD Banjarnegara juga siap melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan setiap rupiah yang dikucurkan memberikan manfaat bagi Pendapatan Asli Desa (PADes) maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD).S

Sebagai legislator yang berdomisili di wilayah Susukan, Martoyo yang juga Politikus Gerindra ini memiliki visi besar untuk menjadikan Gumelem sebagai destinasi wisata religi dan sejarah yang strategis. Keberadaan situs bersejarah seperti Masjid Kuno Gumelem menjadi modal kuat bagi pengembangan wilayah barat Banjarnegara.

“Susukan adalah pintu gerbang barat Banjarnegara. Potensi wisatanya komplit; ada situs sejarah, ritual budaya, dan kerajinan. Saya bersama teman-teman di DPRD, khususnya yang berasal dari wilayah Susukan, akan berjuang agar event Sadran Gede masuk dalam agenda strategis daerah,” pungkasnya.

Komitmen ini diharapkan dapat membawa Sadran Gede Gumelem naik kelas, tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah berbasis kearifan lokal dalam lima tahun ke depan.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *