
JAKARTA, jongjava.co – Persiapan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat tidak hanya menyangkut waktu serta kelengkapan administrasi. Bagi puluhan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, proses tersebut juga menjadi momentum untuk menata diri dan mengelola perasaan agar lebih siap menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana.
Sebanyak 30 Warga Binaan kembali mengikuti pendampingan pembinaan kepribadian bersama Kelompok Sosialisasi Hati (KSH), komunitas layanan sosial dari Natural Way of Living, Rabu (24/9/2026).
Kegiatan yang digelar sebagai bagian dari proses reintegrasi tersebut melanjutkan pertemuan sebelumnya yang mengajak peserta mengenali dan membuka hati. Kali ini, pendampingan difokuskan pada kemampuan mengelola perasaan, membangun ketenangan, serta menghadirkan pengalaman positif dalam diri.
Bagi RO, salah seorang Warga Binaan peserta reintegrasi, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai makna persiapan sebelum kembali kepada keluarga.
“Selama ini yang banyak saya pikirkan adalah kapan bisa kembali ke keluarga. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa sebelum pulang, hati dan diri juga harus disiapkan. Saya ingin kembali dengan pikiran yang lebih tenang dan menjalani kehidupan dengan lebih baik,” ungkapnya.
Pembelajaran yang berlangsung di Aula Bina Insan dipandu fasilitator KSH, Uni Mahleni. Para peserta tidak hanya menerima materi melalui paparan, tetapi juga mengikuti pemutaran video, latihan, serta interaksi kelompok.
Melalui rangkaian tersebut, peserta diajak mempraktikkan cara mengenali perasaan, membangun ketenangan, sekaligus menghadirkan pengalaman positif sebagai bagian dari proses mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
Pembina Kepribadian Lapas Kelas I Cipinang, Septiyawan, menyampaikan pesan Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, bahwa kesiapan reintegrasi perlu dibangun secara bertahap selama Warga Binaan masih menjalani proses pembinaan.
“Pesan Bapak Kalapas, reintegrasi bukan hanya tentang kapan Warga Binaan kembali ke masyarakat, tetapi bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk kembali. Mereka akan bertemu lagi dengan keluarga, lingkungan, tanggung jawab, dan berbagai dinamika kehidupan. Karena itu, kesiapan diri perlu dibangun sejak sekarang,” ujar Septiyawan.
Sementara itu, Ketua KSH Indonesia, Luki Setiawan Suardi, mengatakan pendampingan tersebut memang dirancang sebagai proses yang berkelanjutan antarsesi.
Dalam kegiatan kali ini, Luki hadir bersama delapan relawan KSH sehingga total terdapat sembilan fasilitator yang mendampingi para peserta.
“Pekan lalu kami mulai dengan mengajak teman-teman mengenali dan membuka hati. Pertemuan kali ini kami lanjutkan dengan belajar bagaimana mengelola perasaan agar hati tetap tenang dan bahagia. Proses ini tidak selesai dalam satu pertemuan. Kami ingin mendampingi mereka secara bertahap agar apa yang dipelajari benar-benar dirasakan dan bisa dibawa ketika kembali kepada keluarga dan masyarakat,” ujar Luki.
Kegiatan tersebut turut melibatkan delapan tutor dan anggota PKBM Warga Mandiri. Keterlibatan berbagai unsur itu menjadi bagian dari upaya memperkuat Kelas Reintegrasi Lapas Cipinang sebagai proses pembinaan yang berkelanjutan.
Mulai dari mengenali diri, membuka dan mengelola hati, hingga membangun kesiapan menghadapi kehidupan nyata, Warga Binaan diarahkan untuk mempersiapkan kepulangan secara lebih menyeluruh.
Dengan demikian, reintegrasi tidak semata dimaknai sebagai berakhirnya masa menjalani pembinaan di Lapas, tetapi juga sebagai proses mempersiapkan diri untuk kembali menjalankan peran di tengah keluarga dan masyarakat.
(Red)

