Pergantian tahun kerap dirayakan dengan gemerlap dan euforia. Namun di sudut lain Kota Pemalang, pagi hingga siang Jumat (9/1/2026) justru diisi dengan langkah-langkah sunyi penuh makna. Ramsus—wartawan lokal yang akrab di kalangan aktivis dan insan pers—memilih mengawali 2026 dengan menebar kepedulian, bukan perayaan.
Bersama putra semata wayangnya, Rama, Ramsus turun langsung ke jalan membagikan nasi bungkus kepada mereka yang kerap luput dari sorotan: abang becak yang setia menunggu penumpang, pengamen jalanan, tukang parkir yang membantu kelancaran lalu lintas, hingga sopir angkutan kota yang menggantungkan hidup di kerasnya aspal.
Lebih dari 50 nasi bungkus dibagikan di sekitar Perempatan Lampu Merah Sirandu. Bukan sekadar memberi makan, kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur—bahwa hidup yang masih diberi kesehatan, rezeki, dan kesempatan adalah amanah yang harus dibagi.
Momentum ini terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan datangnya bulan Rajab, penanda bahwa bulan suci Ramadan kian dekat. Bagi Ramsus, berbagi di awal tahun bukan rutinitas seremonial, melainkan latihan batin untuk terus peka terhadap sesama.
“Jangan pernah lelah untuk peduli,” pesan yang berulang kali ia sampaikan. Menurutnya, kepedulian sosial tidak menunggu kaya atau berlebih, tetapi dimulai dari niat dan keberanian untuk turun langsung melihat realitas.
Kegiatan ini juga menjadi cerminan nilai yang ingin ia tanamkan kepada anaknya: bahwa empati tidak diajarkan lewat kata-kata, melainkan melalui teladan. Di tengah dunia yang kian individualistis, langkah kecil ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tetap hidup—selama masih ada yang mau berbagi.
Ramsus berharap, dengan izin Tuhan, kegiatan sosial seperti ini dapat terus berlanjut secara berkala. Sebab baginya, keberkahan bukan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa ditinggalkan bagi orang lain.





