Poskota.online- Suka atau tidak, pornografi selalu ada dan terus berevolusi mengikuti zaman. Meski sering dikecam dan dibatasi, faktanya konten ini tak pernah benar-benar mati. Justru sebaliknya, ia tumbuh seiring perkembangan teknologi.
Pada era 1980–1990-an, sebelum internet masuk ke rumah-rumah, orang menyalurkan fantasi lewat buku stensilan. Bentuknya tipis, dicetak di kertas murahan, tapi isinya penuh cerita nakal dan vulgar.
Nama Any Arrow dan Freddy S jadi legenda. Awalnya, karya mereka bahkan sempat dikategorikan sebagai sastra erotis karena masih punya alur cerita. Namun, jujur saja, pembaca bukan datang karena plot. Yang dicari adalah deskripsi eksplisit soal tubuh dan adegan seksual.
Saking larisnya, nama Any Arrow dan Freddy S akhirnya jadi nama generik. Banyak penulis lain memakainya demi mendongkrak penjualan. Soal royalti? Nyaris tak pernah dipermasalahkan.
Meski peredarannya dilarang dan sering kena razia, stensilan tetap laku keras. Di Jakarta, buku-buku ini mudah ditemui di Pasar Senen dan Pasar Baru. Bahkan bagi sebagian pedagang, stensilan jadi sumber cuan utama karena margin keuntungannya jauh lebih besar dibanding buku biasa.
VCD: Lompatan Besar Dunia Bokep
Memasuki akhir 1990-an, kejayaan stensilan mulai redup. Penyebabnya jelas: VCD.
Sebelumnya, orang memang sudah mengenal VHS dan LaserDisc, tapi kedua format ini mahal dan sulit digandakan. VCD datang sebagai solusi: murah, mudah disalin, dan gampang dibagikan.
Dari yang awalnya mengandalkan imajinasi lewat teks dan gambar, kini orang disuguhi konten audio-visual. Lapak pun bergeser. Penjualan dan penyewaan VCD porno marak, biasanya pakai kode seperti film Donald Bebek atau film Owl biar aman.
Salah satu judul paling fenomenal kala itu adalah Bandung Lautan Asmara yang muncul pada 2002 dan langsung bikin geger. Setelah itu, muncul berbagai video serupa yang memicu kontroversi nasional.
Ponsel dan 3G: Pornografi Masuk Saku
Ancaman baru bagi VCD bukan DVD. DVD terlalu mahal. Justru yang mengubah segalanya adalah ponsel berlayar warna dan jaringan 3G yang mulai populer sekitar 2007.
Lewat infrared dan bluetooth, video berformat 3GP menyebar diam-diam, seringnya di sekolah atau kampus. Beberapa kasus melibatkan nama-nama publik dan berujung pada proses hukum setelah UU Anti Pornografi disahkan pada 2008.
Internet dan Forum Mesum
Pertengahan 2000-an juga menandai kelahiran era internet massal. Penyebaran konten porno makin susah dikendalikan. Forum-forum seperti BB17 di KASKUS, situs-situs dewasa lokal, hingga laman luar negeri bermunculan silih berganti.
Pemblokiran rutin dilakukan pemerintah, tapi efektivitasnya patut dipertanyakan. Situs yang diblokir biasanya muncul kembali dengan nama dan domain baru. Belum lagi akses ke situs luar negeri yang tetap bisa dibuka lewat VPN.
Data menunjukkan, semakin sering situs diblokir, pengguna VPN justru makin meningkat. Indonesia bahkan pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan pengguna VPN terbesar di dunia.
Media Sosial: Medan Baru Konten Dewasa
Di era media sosial, pornografi kembali menemukan rumah baru. Tumblr sempat dikenal sebagai platform dengan konten dewasa paling masif hingga akhirnya diperketat dan sempat diblokir di Indonesia.
Setelah itu, arus berpindah ke Twitter. Berbeda dengan platform lain, Twitter relatif longgar dalam moderasi konten sensitif. Sekali masuk ke satu akun, algoritma akan merekomendasikan akun serupa. Meski banyak yang diblokir, akun baru selalu muncul dengan nama modifikasi.
Jadi, Bisa Diberantas atau Tidak?
Sejarah menunjukkan satu hal: pornografi bersifat adaptif dan ekspansif. Ia selalu menemukan celah, dari buku murahan, VCD, ponsel, internet, hingga media sosial.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal bisa atau tidak diblokir, tapi seberapa siap kita menghadapi realitas digital. Jika satu platform menutup pintu, kemungkinan besar konten itu hanya pindah ke tempat lain.
Lalu, kembali ke pertanyaan besar: apakah manusia benar-benar bisa lepas dari pornografi, atau justru terus hidup berdampingan dengannya dalam bentuk yang selalu baru?





