Oleh:
Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa
(Praktisi Kedokteran Regeneratif & Founder Engsel United)
Pernahkah Anda merasa dikhianati oleh tubuh sendiri? Hari ini sendi bengkak tanpa sebab yang jelas, esok kulit memerah dan meradang, atau tenaga tiba-tiba hilang tak berbekas padahal sudah cukup beristirahat.
Bagi para pejuang autoimun—baik penderita Lupus (SLE), Rheumatoid Arthritis, Psoriasis, Sjögren, maupun GBS—tubuh sering kali terasa seperti medan pertempuran yang tak berkesudahan.
Dalam bahasa sederhana, penyakit autoimun dapat diibaratkan sebagai sebuah “perang saudara”. Sistem kekebalan tubuh (imun) yang sejatinya diciptakan Tuhan sebagai “polisi” atau pelindung dari serangan bakteri dan virus, tiba-tiba mengalami kekacauan komunikasi. Mereka salah mengenali organ tubuh sendiri—entah itu sendi, ginjal, saraf, atau kulit—sebagai musuh berbahaya, lalu menyerangnya dengan agresif.
Dilema Pengobatan Lama: Menekan, Bukan Mendamaikan
Selama puluhan tahun, pendekatan medis konvensional untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan memberikan obat penekan sistem imun (immunosuppressant) atau golongan steroid. Logika pengobatan lama ini ibarat menghadapi kerusuhan: jika “polisinya” mengamuk, maka kita lumpuhkan atau tahan polisinya.
Hasilnya, peradangan memang mereda dan gejala berkurang. Namun harga yang harus dibayar sering kali mahal. Penggunaan steroid jangka panjang dapat menyebabkan pengeroposan tulang, wajah membengkak (moon face), gangguan fungsi ginjal, hingga tubuh menjadi sangat rentan terhadap infeksi karena pertahanan alaminya melemah.
Dengan pendekatan ini, sejatinya kita hanya melakukan “gencatan senjata”, tanpa pernah benar-benar menyelesaikan akar masalah: mengapa sang “polisi” membenci tubuhnya sendiri.
Revolusi Regeneratif: Hadirnya Sang “Juru Damai”
Di era kedokteran presisi dan regeneratif, paradigma pengobatan mulai bergeser. Di Engsel United, kami menawarkan pendekatan yang berbeda secara fundamental. Kami tidak ingin “membunuh” atau melumpuhkan sistem imun yang justru sangat berharga. Kami ingin meng-edukasi ulang mereka.
Di sinilah peran vital Terapi Autologus Stem Cell dan Sekretome.
Bayangkan jika kita mengambil sel punca dari sumsum tulang atau jaringan lemak pasien sendiri. Sel-sel ini bukan pasukan tempur, melainkan berperan sebagai “guru” atau “juru damai”. Setelah diproses dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh, sel punca tidak menyerang siapa pun. Sebaliknya, ia melepaskan sinyal-sinyal molekuler cerdas—yang dikenal sebagai Sekretome dan Eksosom—yang membawa pesan perdamaian ke seluruh sistem tubuh.
Mekanismenya sangat elegan. Pada pasien autoimun, sel imun jenis Makrofag M1 (tipe perusak) mendominasi. Stem cell dan sekretome akan mengirim sinyal biologis agar mereka bertransformasi menjadi Makrofag M2, yaitu tipe penyembuh yang menekan peradangan.
Selain itu, terapi ini merangsang terbentuknya T-Regulatory Cells, pasukan penengah dalam sistem imun. Sel-sel ini bertugas menenangkan konflik, seolah berkata: “Stop! Itu ginjal kita sendiri, jangan diserang!” kepada sel imun yang sedang mengamuk.
Mengapa Harus Autologus (Dari Diri Sendiri)?
Pasien autoimun memiliki sistem tubuh yang sangat sensitif (hipersensitif). Sedikit saja zat asing masuk, tubuh bisa bereaksi berlebihan atau mengalami flare-up. Karena itu, metode autologus—menggunakan sel dari tubuh pasien sendiri—adalah pilihan paling rasional dan aman.
Prinsipnya sederhana: From You, For You.
Karena berasal dari diri sendiri, tidak ada protein asing yang masuk sehingga risiko alergi atau penolakan hampir nol. Sel mengenali “rumahnya” sendiri. Kami hanya memanen “benih perdamaian” dari tubuh pasien, memekatkan potensinya, lalu mengembalikannya untuk mendamaikan perang saudara yang sedang terjadi.
Harapan Baru: Remisi Tanpa Ketergantungan
Tujuan akhir terapi regeneratif pada kasus autoimun bukan sekadar menghilangkan nyeri sesaat, melainkan mencapai remisi jangka panjang—kondisi ketika penyakit “tidur” dan tidak lagi menunjukkan aktivitas merusak.
Harapan terbesar kami adalah melihat pasien perlahan terbebas dari ketergantungan obat antinyeri atau steroid dosis tinggi. Kami ingin melihat pasien Lupus dengan fungsi ginjal yang membaik, atau pasien Rheumatoid Arthritis yang kembali bisa menggerakkan sendi tanpa kaku di pagi hari.
Penyakit autoimun mungkin belum bisa dihapus sepenuhnya dari cetak biru genetika manusia. Namun dengan teknologi regeneratif, kita bisa membuatnya “tidur nyenyak”, sehingga tidak lagi merampas kualitas hidup dan produktivitas.
Jangan biarkan tubuh Anda terus berperang sendirian.
Mari kirimkan pasukan perdamaian dari dalam diri Anda sendiri.
Berdamailah dengan tubuhmu, karena ia adalah satu-satunya rumah tempat jiwamu berteduh.
Salam Sehat, Salam Engsel United.
Damai di Dalam, Kuat di Luar.





