Lima Tahun di Jalan yang Sama: Persaudaraan Pekerja Truk Indonesia Nusantara Pemalang Rayakan Kebersamaan

by

Pemalang, Jawa Tengah – 11 Januari 2026

Deru mesin truk, panas aspal Pantura, dan perjalanan panjang lintas daerah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Namun di balik kerasnya jalanan, para pekerja truk ini menyimpan satu hal yang tak tergantikan: persaudaraan.

Di sebuah warung makan sederhana di jalur Pantura, tak jauh dari Terminal Induk Tipe A Pemalang, puluhan sopir truk yang tergabung dalam Persaudaraan Pekerja Truk Indonesia (PPTI) Nusantara Pemalang berkumpul. Bukan untuk memuat barang, bukan pula untuk beristirahat sejenak dari perjalanan jauh, melainkan untuk merayakan Anniversary ke-5 PPTI Nusantara G 03, Minggu pagi (11/1/2026).

Tepat pukul 09.00 WIB, acara tasyakuran dimulai. Sederhana, tanpa kemewahan, namun sarat makna. Senyum, canda, dan jabat tangan hangat mewarnai pertemuan para “pejuang jalan raya” yang sehari-hari lebih sering berjumpa di lintasan aspal daripada di ruang-ruang nyaman.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PPTI Nusantara Pemalang Rema Yulianto, Koordinator Bidang Logistik Bagus Ginanjar, Koordinator sekaligus Ketua Tim Trouble Sondel Jawer, Humas Samson, serta puluhan anggota PPTI dari Pemalang dan sejumlah daerah kabupaten lainnya.

Bagi mereka, lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Lima tahun bertahan di tengah kerasnya tantangan profesi, risiko di jalan, serta dinamika kehidupan keluarga yang sering ditinggalkan demi mencari nafkah.

“Ini bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT. Selama lima tahun ini, alhamdulillah kami masih diberi kesehatan, kelancaran rezeki, dan yang paling penting, persaudaraan kami tetap terjaga,” ujar Rema Yulianto saat ditemui di sela acara.

Menurutnya, PPTI bukan sekadar organisasi, melainkan rumah bagi para pekerja truk. Tempat saling menguatkan ketika lelah, saling membantu ketika ada masalah di jalan, dan saling mengingatkan agar tetap menjaga keselamatan serta etika, baik di jalan raya maupun dalam berorganisasi.

Pesan itu pun kembali ia sampaikan kepada seluruh rekan seprofesi. Agar persaudaraan yang telah terjalin tetap dirawat, dijaga, dan diwariskan kepada anggota-anggota baru. Karena di jalan yang panjang dan tak selalu ramah, kebersamaan adalah kekuatan utama.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada para relasi, para “bos”, seluruh anggota yang hadir dari berbagai daerah, serta semua pihak yang membantu terselenggaranya acara. Tak lupa, apresiasi juga diberikan kepada Ustad Mujihartono yang memimpin doa tasyakuran, serta awak media yang meliput kegiatan tersebut.

Suasana semakin hangat saat yel-yel khas PPTI menggema, diucapkan serempak dengan penuh semangat:

“Salam persaudaraan, bersatu mandiri, salam solid, salam kompak, dan sukses selalu… yes, yes, yes!”

Doa dan harapan pun mengiringi perayaan sederhana itu. Harapan agar persaudaraan ini terus diberi petunjuk dan jalan kebaikan oleh Sang Khalik, serta mampu menjadi wadah yang membawa manfaat bagi anggotanya dan masyarakat luas.

Menjelang siang, sesi hiburan menutup rangkaian acara. Tawa kembali pecah, sejenak melupakan lelah dan jarak tempuh yang telah mereka lalui. Esok, mereka akan kembali ke jalan. Namun hari itu, mereka pulang dengan satu bekal penting: rasa memiliki dan persaudaraan yang semakin kuat.(sus)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *