JOMBANG – Sebuah foto hitam putih memperlihatkan wajah seorang pemuda dengan tatapan lurus ke depan. Tidak banyak yang bisa dibaca dari potret itu selain kesan seorang anak muda dari zaman yang jauh berbeda dengan hari ini.

Namun di balik wajah tersebut tersimpan kisah perjalanan seorang anak dari keluarga sederhana yang kemudian masuk ke pusaran sejarah pergerakan Indonesia.

Namanya Semaoen, atau dalam ejaan lama ditulis Semaoen. Ia lahir pada 1899 di Curahmalang, wilayah Sumobito, Jombang, Jawa Timur. Ia tumbuh bukan dari keluarga kaya maupun kalangan priayi. Ayahnya, Prawiroatmodjo, merupakan pegawai rendahan di jawatan kereta api dan disebut bekerja sebagai tukang batu.

Dari lingkungan sederhana itulah perjalanan Semaoen dimulai.

Sang ayah, meski hidup sebagai pekerja rendahan, disebut memiliki keinginan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Semaoen kemudian memperoleh pendidikan di sekolah bumiputra dan juga belajar bahasa Belanda melalui kursus tambahan.

Pendidikan tersebut menjadi salah satu bekal penting yang kelak membawanya memasuki dunia pergerakan.

Dari Juru Tulis Kereta Api ke Dunia Pergerakan

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Semaoen bekerja sebagai juru tulis di Staatsspoor (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda di Surabaya. Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah bersentuhan langsung dengan kehidupan kaum pekerja.

Pengalaman berada di lingkungan buruh kereta api ikut membentuk pandangannya mengenai kehidupan sosial pada masa kolonial.

Pada 1914, Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam di Surabaya. Setahun kemudian, ia bertemu Henk Sneevliet, tokoh sosialis Belanda yang aktif mengorganisasi kaum buruh. Pertemuan tersebut kemudian membawa Semaoen semakin jauh ke dalam aktivitas pergerakan dan organisasi buruh.

Usianya masih belia ketika mulai aktif mengorganisasi pekerja.

Anak Tukang Batu di Tengah Pergolakan Zaman

Kisah Semaoen menjadi menarik bukan hanya karena perjalanan politiknya, tetapi juga karena latar belakang sosialnya.

Ia bukan anak bangsawan. Ia bukan pula berasal dari keluarga elite kolonial. Ia tumbuh dari keluarga pekerja kereta api.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya memasuki ruang-ruang perdebatan politik yang pada masa itu didominasi tokoh-tokoh yang lebih senior.

Semaoen kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan buruh dan politik kiri pada masa Hindia Belanda. Pada 1920, organisasi komunis Hindia yang sebelumnya bernama Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) dibentuk dan Semaoen menjadi pemimpinnya.

Perjalanan politiknya kemudian membuat namanya tercatat dalam sejarah Indonesia sekaligus menjadi bagian dari sejarah kontroversial gerakan komunisme di tanah air.

Dari Curahmalang, Namanya Menyeberangi Zaman

Kehidupan Semaoen juga tidak berhenti pada aktivitas politik di Hindia Belanda. Setelah ditangkap pemerintah kolonial pada 1923, ia kemudian diasingkan ke Belanda atas permintaannya sendiri. Ia baru kembali ke Indonesia pada 1957. Semaoen meninggal di Jakarta pada April 1971.

Hari ini, nama Semaoen mungkin tidak selalu berada di halaman depan buku sejarah populer. Namun perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana seseorang yang lahir dari keluarga pekerja dapat masuk ke tengah pergulatan besar sejarah.

Dari rumah sederhana keluarga tukang batu, dari lingkungan pekerja kereta api, Semaoen tumbuh menjadi salah satu figur penting dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Potret hitam putih itu akhirnya bukan sekadar gambar seorang lelaki dari masa lalu. Ia menjadi pintu untuk melihat sebuah zaman—ketika pendidikan, dunia buruh, kolonialisme, dan gagasan politik bertemu dalam diri seorang anak muda bernama Semaoen.

Catatan: Ada perbedaan sumber mengenai tempat lahir Semaoen. Sumber yang umum menyebut Curahmalang, Jombang, sementara beberapa sumber lain menyebut Gununggangsir, Pasuruan. Tahun kelahirannya yang banyak digunakan adalah 1899.