Terdampak Asap, Wako Edi Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

by -9 Views
Oplus_131072

PONTIANAK Poskota Online Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas luar ruangan menyusul kondisi udara Kota Pontianak yang mulai terdampak asap kebakaran lahan. Edi mengatakan, kualitas udara di Kota Pontianak saat ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena wilayah Pontianak dan sekitarnya mulai memasuki musim kemarau pada bulan Agustus.

Kabut asap mulai terasa akibat kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah kabupaten sekitar Kota Pontianak. Di Pontianak sendiri, hanya ada satu titik api di Jalan Sepakat II Ujung dan tinggal pendinginan.

“Kalau asap yang di Pontianak ini dari perbatasan, kita setiap hari patroli, begitu ada indikasi langsung ditindaklanjuti,” ujar Edi saat memantau pendinginan lahan gambut yang terbakar di Jalan Sepakat II Ujung, Minggu (9/8/2026) siang.

Edi menyebut Pemkot Pontianak terus memantau kualitas udara, salah satunya melalui pemantauan di kawasan Kecamatan Pontianak Tenggara. Pemantauan dilakukan untuk menentukan langkah antisipasi, terutama jika kualitas udara semakin memburuk. Untuk saat ini, ia meminta masyarakat tetap waspada terhadap paparan asap, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. Ia mengimbau warga memperbanyak minum air putih serta mengurangi kegiatan di luar ruangan.

“Kami juga melarang warga untuk membakar lahan kosong. Karena di lahan gambut, kalau sudah terbakar, sulit untuk dipadamkan dan akan menimbulkan asap,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengatakan, masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui laman ISPUnet dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pasalnya sumber data yang digunakan sesuai dengan lokasi alat di Kota Pontianak.

“Saat ini, Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien atau AQMS Pontianak Tenggara menjadi satu-satunya stasiun AQMS Kementerian Lingkungan Hidup yang berada di wilayah Kota Pontianak,” katanya.

Usmulyono menjelaskan, sejumlah platform pemantauan kualitas udara dapat menjadi alternatif informasi. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa sumber data, lokasi alat pemantau, metode pengukuran, dan metode perhitungan indeks dapat berbeda-beda.

Ia mencontohkan, pada laman IQAir disebutkan bahwa kontributor data kualitas udara Kota Pontianak antara lain berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Greenpeace Indonesia, serta Lab Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura. Namun, setelah dilakukan pengecekan, salah satu sumber data stasiun AQMS yang ditampilkan bukan berasal dari AQMS Pontianak Tenggara, melainkan dari Stasiun AQMS Kubu Raya.

“Data AQMS Pontianak Tenggara sampai saat ini belum terdaftar sebagai kontributor data pada laman tersebut. Karena itu, masyarakat perlu melihat sumber datanya, bukan hanya angka yang muncul,” jelasnya.

Berdasarkan pengecekan pada 8 Agustus 2026 pukul 09.00, data IQAir menunjukkan indeks AQI-US untuk PM2.5 berada pada angka 92 dengan kategori sedang. Pada waktu yang sama, data AQMS Kubu Raya menunjukkan ISPU PM2.5 sebesar 69 dengan kategori sedang, sementara AQMS Pontianak Tenggara menunjukkan ISPU PM2.5 sebesar 88 dengan kategori sedang.

Usmulyono menerangkan, perbedaan angka tersebut wajar terjadi karena tiap sistem dapat menggunakan metode pemantauan dan perhitungan yang berbeda. Selain itu, posisi alat, radius pemantauan, penggunaan data berbasis darat, citra satelit, serta pola cuaca juga dapat memengaruhi hasil akhir yang ditampilkan.

“Perbedaan data sangat mungkin terjadi karena dipengaruhi metode pemantauan, lokasi penempatan alat, hingga metode perhitungan indeks,” katanya.

Ia menambahkan, IQAir sendiri dalam penjelasan di lamannya menyebut bahwa stasiun berbasis darat memberikan data kualitas udara yang paling akurat dan dapat diandalkan. Namun, pada lokasi yang tidak memiliki stasiun pengukuran, kualitas udara dapat diperkirakan melalui pemodelan data dari citra satelit dan pola cuaca.

Karena itu, DLH Pontianak mendorong masyarakat menjadikan data AQMS Pontianak Tenggara sebagai rujukan utama dalam melihat kondisi kualitas udara Kota Pontianak. Sementara data dari platform lain dapat digunakan sebagai informasi pembanding atau alternatif, terutama untuk lokasi yang belum memiliki alat pemantau kualitas udara.

“Data dari platform lain tetap dapat menjadi alternatif, tetapi tidak sebaiknya dijadikan satu-satunya sumber rujukan,” tutupnya.

Facebook Comments Box