
BANJARNEGARA, jongjava.co — Riuh warga pecah di Lapangan Desa Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, saat Bentang Ondol sepanjang 1.000 meter menjadi puncak gelaran ke-16 Kuduran Budaya Wanayasa, Minggu (27/9/2026).
Ribuan warga dan pengunjung memadati lapangan bukan sekadar untuk menyaksikan pertunjukan. Mereka juga ikut terlibat dalam tradisi rayahan ondol, yakni berebut butiran ondol yang sebelumnya dibentangkan secara gotong royong hingga mencapai panjang satu kilometer.
Sekitar 1.700 pengunjung memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian kegiatan hingga puncak acara.
Kuduran Budaya tahun ini melibatkan sekitar 360 orang penampil dan petugas. Mereka terdiri atas 17 bidadari ondol dari siswi SMKN 1 Wanayasa, 192 pembentang dari siswa SMPN 1 Wanayasa, 16 pemasang kawat bentangan, 32 pembawa ondol, 33 pelukis lingkaran area bentangan, serta 70 penjaga area.
Selain itu, sebanyak 10 orang bertugas menggoreng ondol, sementara 45 ibu-ibu dasawisma berperan sebagai penyindik. Suasana semakin semarak dengan penampilan drumband dari MTs/MBS Muhammadiyah Wanayasa.
Kuliner Khas yang Lahir dari Kreativitas Warga
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Banjarnegara, Mohamad Iqbal, S.E., yang hadir mewakili Bupati Banjarnegara, mengapresiasi penyelenggaraan Kuduran Budaya tahun ini.
Menurut Iqbal, ondol merupakan salah satu kuliner khas yang lahir dari kreativitas masyarakat Wanayasa dan telah menjadi bagian dari identitas lokal.
“Ondol ini salah satu ciri khas makanan yang ditanam dan diolah sedemikian rupa oleh masyarakat, sehingga menjadi karya kuliner yang luar biasa,” kata Iqbal.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam penyelenggaraan festival tersebut.
“Terkait Festival Kuduran Budaya ini, sangat luar biasa karena berhasil membuat sebuah event yang merupakan kerja sama semua pihak di Wanayasa, yang berhasil membuat semua pengunjung bergembira dan bahagia,” lanjutnya.
Gotong Royong Jadi Kekuatan Utama
Panitia Kuduran Budaya, Nono Sendawa, mengatakan Bentang Ondol 1.000 meter merupakan hasil gotong royong berbagai unsur masyarakat Wanayasa.
Menurutnya, pelajar, pemuda, kaum pria, perempuan hingga kelompok ibu-ibu terlibat dalam proses penyelenggaraan tradisi tersebut.
“Kuduran Budaya tahun ini tetap mempersembahkan bentang Ondol yang merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelajar, pemuda, pria, wanita, kelompok ibu-ibu, dan masih banyak lagi,” ujar Nono.
Ia menambahkan, selain menjadi sarana pelestarian budaya dan kuliner tradisional, Kuduran Budaya juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi serta kerukunan masyarakat.
“Alhamdulillah, selain sebagai sarana pelestarian budaya dan kuliner khas, acara ini bisa jadi ajang silaturahmi dan kerukunan warga,” katanya.
Warga Tak Hanya Jadi Penonton
Kemeriahan Kuduran Budaya juga dirasakan langsung warga yang terlibat dalam proses pembuatan hingga pembentangan ondol.
Salah seorang warga, Tari, mengaku senang dapat mengikuti momentum tersebut. Baginya, keunikan Kuduran Budaya terletak pada keterlibatan masyarakat yang tidak hanya datang sebagai penonton.
“Suka sekali dengan acara ini. Selain ramai, kami juga bisa ikut berpartisipasi dalam proses pengolahan ketela hingga menjadi ondol yang dibentangkan ramai-ramai,” katanya.
Ondol merupakan kuliner tradisional khas Wanayasa yang dibuat dari singkong parut. Adonan tersebut dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil kemudian digoreng hingga berwarna keemasan.
Dalam tradisi Bentang Ondol, ondol yang telah ditusuk kemudian disambung satu sama lain hingga membentuk bentangan sepanjang 1.000 meter di area lapangan desa.
Setelah bentangan selesai, panitia memberikan aba-aba sebagai tanda dimulainya rayahan ondol. Pengunjung kemudian diperbolehkan mengambil dan menikmati ondol secara bersama-sama.
Momen rayahan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu karena berlangsung meriah dan dalam waktu relatif singkat.
Kuduran Budaya Wanayasa pun tak hanya menghadirkan tontonan, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi, mengenalkan kuliner lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan warga.





Leave a Reply