JONGJAVA.CO, SEMARANG — Paradigma desa sebagai sekadar pemasok bahan mentah mulai digeser. Mengubah komoditas pangan lokal dari komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing pasar kini menjadi pilar utama strategi penguatan ekonomi berbasis perdesaan.

Gagasan hilirisasi tersebut mengemuka dalam Final Showcase Lumbung Karya Indonesia bertajuk “Inovasi Karya Pangan Lokal” yang digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang. Diinisiasi oleh Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) bekerja sama dengan STAPA dan Impala, ajang ini menjaring 250 pelaku ekonomi pangan lokal, menyaring 25 finalis, hingga menetapkan lima pemenang unggulan dari berbagai kategori inovasi.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penciptaan nilai tambah (value added) pada bahan pangan lokal merupakan prioritas yang harus diakselerasi di setiap kabupaten dan kota. Untuk mewujudkan UMKM yang mampu naik kelas, diperlukan intervensi pemerintah yang komprehensif.

“Bahan lokal tidak boleh hanya berhenti pada pembuatan produk biasa, tetapi harus memiliki nilai tambah. Dukungan pemerintah wajib hadir secara terpadu, mulai dari pembinaan teknis, akses permodalan, perbaikan kemasan, hingga strategi pemasaran dan Penjualan,” tegas Luthfi.

Sinergi Lintas Sektor dan Penyerapan Pasar

Dari perspektif regulasi dan kebijakan makro, Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., QRGP., CGRE, memaparkan bahwa hilirisasi pangan lokal memerlukan ekosistem yang terintegrasi antara birokrasi, akademisi, dunia usaha, dan komunitas pemuda. Sugeng menekankan pentingnya menyelaraskan inovasi produk dengan permintaan pasar (market demand). Salah satu stimulus konkret yang dapat disiapkan pemerintah daerah adalah optimalisasi skema belanja daerah untuk menyerap produk-produk UMKM lokal.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, Muhammad Sakur, M.Sc., menyoroti pentingnya mendorong komoditas desa agar mampu masuk ke dalam rantai nilai (value chain) yang lebih luas melalui kombinasi strategi hilirisasi dan diversifikasi.

Ketua Umum IPDA, Arifin Kusuma Wardhani bersama para penerima penghargaan.(foto/doc)

“Desa tidak bisa lagi terus-menerus bergantung pada satu komoditas mentah. Pemuda harus mengambil peran strategis sebagai motor penggerak—membawa teknologi, membaca tren pasar, membangun reputasi merek (branding), dan menghubungkan produk desa langsung ke tangan konsumen,” ujar Sakur.

Menjadikan Desa Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Ketua Umum IPDA, Arifin Kusuma Wardhani, menambahkan bahwa program Lumbung Karya Indonesia dirancang sebagai inkubator bagi lahirnya wirausaha muda di tingkat lokal. Kehadiran anak muda diharapkan mampu mengoptimalkan kearifan dan sumber daya lokal menjadi entitas bisnis yang berkelanjutan.

“Desa tidak boleh hanya menjadi lokasi produksi bahan baku. Desa harus bertransformasi menjadi pusat lahirnya karya, inovasi produk, dan unit usaha mandiri,” kata Arifin.

Melalui kemitraan strategis antara pemuda, pelaku UMKM, pemerintah, dan jejaring bisnis, Lumbung Karya Indonesia menegaskan pesan kunci: dengan intervensi inovasi, pendampingan yang konsisten, serta membuka akses pasar, pangan lokal memiliki kapasitas untuk menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah.(har01)